Aqthab

Dalam istilah tasawuf, mereka adalah wali-wali yang telah terkumpul padanya seluruh maqam dan ahwal keutamaan.

Keyakinan ini sesat, karena tidak ada ayat Al-Qur’an atau Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih yang memberitakan akan hal ini.

Abdal

Dalam istilah tasawuf, mereka adalah wali-wali yang berjumlah tujuh, tidak bertambah dan tidak berkurang. Menurut klaim orang-orang sufi, wali-wali itu ditugaskan Allah untuk menjaga tujuh daerah di bumi.

Keyakinan ini sesat, karena tidak ditemukan adanya ayat Al-Qur’an  atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih yang memberitakan hal ini kepada umat Islam.

Sufi Meyakini Adanya Wali-wali yang Mana Allah Menyerahkan Pengaturan Segala Urusan Kepada Mereka

Mereka (kaum Sufi -red) memiliki keyakinan adanya abdal, aqthab, dan wali-wali yang mana Allah menyerahkan pengaturan segala urusan kepada mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menuturkan jawaban orang-orang musyrik saat bertanya kepada mereka:

“‘Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.'” (QS. Yunus : 31)

(Ash-Shufiyyah fi Mizan al-Kitab wa as-Sunnah, bab Hakikat Sufi, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Kesyirikan Kaum Sufi: Orang-orang Sufi Berdoa Kepada Selain Allah

Orang-orang Sufi berdoa kepada selain Allah Ta’ala, seperti kepada para Nabi dan para Wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Mereka mengucapkan: “Wahai Jailani, wahai Rifa’i, wahai Rasulullah, tolonglah kami, wahai Rasulullah, engkau adalah sandaran kami.”

Padahal Allah Ta’ala melarang kita berdoa kepada selain-Nya dan mengkategorikannya sebagai perbuatan syirik. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang zhalim.” (QS. Yunus : 106)

Orang-orang zhalim dalam ayat ini maksudnya adalah orang-orang musyrik.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Do’a adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2969 dan dia berkata: “Hadits hasan shahih.”)

Do’a adalah ibadah, seperti halnya shalat, tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, meski untuk seorang Rasul atau wali. Ini termasuk syirik besar yang dapat membatalkan amalan seseorang dan mengekalkan pelakunya di dalam neraka.

(Ash-Shufiyyah fi Mizan al-Kitab wa as-Sunnah, bab Hakikat Sufi, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Sufi Memiliki Banyak Tarekat dan Setiap Tarekat Saling Menyesatkan Satu Sama Lain

Sufi memiliki banyak tarekat seperti Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifa’iyah dan lain-lain. Setiap tarekat mengklaim di atas kebenaran dan yang lainnya di atas kebathilan, padahal Islam melarang perpecahan. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-31)

(Ash-Shufiyyah fi Mizan al-Kitab wa as-Sunnah, bab Hakikat Sufi, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Aliran Sufi yang Pertama Berbeda dengan Aliran Sufi yang Ada Belakangan

Aliran Sufi pertama kali berbeda dengan yang ada belakangan, dimana lebih banyak ajaran-ajaran bid’ah-nya melebihi pendahulunya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal itu (jangan membuat bid’ah -red) dengan sabda beliau:

“Jauhilah oleh kalian hal-hal baru yang dibuat-buat, karena sesungguhnya setiap hal baru yang dibuat-buat itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”  (HR. At-Tirmidzi no. 2676, dan dia berkata; “Hadits hasan shahih.”)

(Ash-Shufiyyah fi Mizan al-Kitab wa as-Sunnah, bab Hakikat Sufi, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu) 

Istilah Sufi Tidak Pernah Dikenal Pada Zaman Nabi

Istilah Sufi tidak pernah dikenal dalam Islam di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat maupun Tabi’in. Setelah itu muncul sekelompok orang-orang zuhud yang mengenakan shuf (pakaian dari kulit domba), dan karena itu istilah sufi pun disandangkan kepada mereka.

(Ash-Shufiyyah fi Mizan al-Kitab wa as-Sunnah, bab Hakikat Sufi, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)