Shalat Sendirian di Belakang Shaf Shalat Berjama'ah, Bolehkah?

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: “Bagaimana pendapat yang shahih mengenai orang yang shalat sendirian di belakang imam?”

Jawaban:

Ada beberapa pendapat tentang shalat sendirian di belakang shaf imam:

  1. Shalatnya sah tetapi menyalahi Sunnah, baik shaf yang ada di depannya penuh atau tidak. Inilah yang terkenal dari ketiga imam madzhab; Malik, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i, dari riwayat Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka menafsirkan hadits kepada ketidaksempurnaan, bukan ketidaksahan: “Tidak sempurna shalatnya orang sendirian di belakang shaf.”
  2. Shalatnya batal, baik shaf yang di depannya penuh atau tidak. Dasar hukumnya adalah hadits: “Tidak sah shalat bagi yang sendirian di belakang imam.” Juga hadits yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat seorang lelaki shalat sendirian di belakang shaf, lalu ia disuruh agar mengulanginya kembali.
  3. Pendapat yang moderat; jika barisan shalat penuh, maka shalat munfarid (sendirian) di belakang imam boleh dan sah. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Yakni jika saudara masuk mesjid dan ternyata barisan shalat telah penuh kanan-kirinya, maka tidak ada halangan saudara shalat sendirian berdasarkan firman Allah berikut:”Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupan.” (QS. At-Taghaabun : 16)

Jika bukan dalam keadaan seperti itu, maka saudara bisa menempuh cara berikut: (1) menarik seorang makmum dari shaf untuk shalat bersama saudara; (2) maju ke depan untuk shalat bersama imam; (3) sendirian tidak berjama’ah, atau (4) shalat berjama’ah namun sendirian di belakang shaf karena tidak mungkin amsuk ke shaf yang di depan. Inilah empat cara yang bisa dilakukan.

Cara kesatu, yaitu menarik seseorang ke belakang untuk shalat bersama saudara. Cara ini dapat menimbulkan langkah tiga atau terputus dari shaf bahkan bisa memindahkan seseorang dari tempat yang utama ke tempat sebaliknya, mengacaukan dan dapat menggerakkan seluruh shaf karena disana ada tempat yang kosong yang kemudian diisi oleh masing-masing dengan cara merapatkan hingga timbul gerakan-gerakan yang tanpa sebab syara’.

Cara kedua, maju ke depan untuk shalat bersama imim. cara ini menimbulkan beberapa kekhawatiran. Jika saudara maju dan berdiri sejajar dengan imam maka cara ini menyelisihi Sunnah, sebab imam harus sendirian di tempatnya agar diikuti oleh yang di belakang dan jangan sampai terjadi dua imam. Dalam hal ini tidak bisa diberi alasan dengan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid dan dijumpainya Abu Bakar tengah shalat berjama’ah lalu beliau ikut shalat di sebelah kirinya dan menyempurnakan shalatnya, karena hal seperti itu dalam keadaan darurat, dimana Abu Bakar ketika itu tak punya tempat di shaf belakang. Akibat lainnya, bila saudara maju ke depan imam, maka dikhawatirkan akan banyak melangkahi pundak orang, sesuai dengan banyaknya shaf. Cara ini jelas akan mengganggu orang shalat yang tidak menyenangkan. Disamping itu, jika setiap orang datang kemudian disuruh ke depan jajaran imam, maka tempat imam akan menjadi shaf penuh dan hal ini menyelisihi Sunnah.

Sedangkan cara ketiga, yaitu saudara meninggalkan berjama’ah dan shalat sendirian, berarti saudara kehilangan nilai berjama’ah dan nilai barisan shalat. Padahal diketahui bahwa shalat berjama’ah walau sendirian shafnya adalah lebih baik ketimbang sendirian tanpa berjama’ah. Hal ini telah dikuatkan oleh berbagai atsar (keterangan Sahabat) dan pandangan yang sehat. Allah sendiri tak akan membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya.

Maka menurutku pendapat yang terkuat adalah jika shaf shalat telah penuh lalu seseorang shalat di belakang shaf dengan berjama’ah adalah lebih baik dan shalatnya sah.

(Fatawa Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin)

One response to this post.

  1. Disamping itu, jika setiap orang datang kemudian disuruh ke depan jajaran imam, maka tempat imam akan menjadi shaf penuh dan hal ini menyelisihi Sunnah.

    Saya pernah melihat sendiri kejadian seperti ini pada satu shalat jama’ah di Senayan, Jakarta.

    Pada waktu itu tempat shalat sudah penuh, lalu kemudian ada beberapa orang yang datang dan mengambil tempat di sisi kanan imam, sehingga pada saat itu ada lebih dari satu orang di sisi kanan imam.

    Saya sendiri hanya berdiri saja, menunggu shalat jama’ah itu selesai dan kemudian ikut berjama’ah pada shalat jama’ah berikutnya, karena shalat jama’ah ini diadakan bukan pada masjid yang memiliki imam tetap dan biasa dilakukan shalat jama’ah di dalamnya, namun shalat jama’ah ini dilakukan di teras sebuah gedung di Senayan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: